Langkah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar memprioritaskan lagi transmigrasi merupakan kebijakan yang layak didukung. Satu catatan penting, ketika sudah memberangkatkan transmigran ke daerah tujuan maka tugas pemerintah bukan berarti telah selesai.
Pemerintah sebelumnya juga harus membangun sarana pendidikan dan kesehatan sebelum mereka menempati kawasan tujuan transmigrasi. Jika dua fasilitas itu tersedia, tentu peserta transmigrasi bisa fokus mengerjakan lahan seluas dua hektare yang didapatkannya.
Pembekalan pendidikan untuk meningkatkan potensi pemahaman tinggal di daerah tujuan juga penting. Pengajaran bagaimana menanam, memberi pupuk, merawat, memanen, hingga menjual hasil berkebun secara tidak langsung mengajarkan proses entrepreneurship. Kalau itu terus dilatih, pasti ada sebagian di antara mereka yang bakal menjadi pengusaha sukses.
Pada 2011, peserta transmigrasi berjumlah 2,2 juta orang. Jika dari jumlah itu ada sekitar 10 persen saja yang menggeluti dunia usaha, maka ikut mendorong persentase jumlah pengusaha di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pengusaha, pengentasan kemiskinan di negeri ini hanya tinggal menunggu waktu.
Kalau sekarang jumlah pengusaha hanya 0,18 persen, tentu jumlahnya harus terus diperbanyak. Itu lantaran masalah kemiskinan dan pengangguran berkorelasi dengan jumlah pengusaha di suatu negara. Semakin banyak warga Indonesia yang beralih profesi sebagai pengusaha, otomatis tingkat pengangguran dan kemiskinan berkurang.
Kalau Singapura bisa menciptakan penduduknya sebesar 7 persen dan Amerika Serikat (AS) sebanyak 11 persen menjadi pengusaha, Indonesia tidak boleh kalah. Caranya? Tentu dengan menggalakkan program transmigrasi yang harus dirancang dengan baik. Ingat, transmigrasi bisa menjadi ikon pengentasan kemiskinan.
Pendidikan Salah Satu Dampak Kependudukan Indonesia
12 tahun yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar